Setapak Langkah – 12 Mei 2026 | Kepala Badan Jaringan Federal Jerman, Klaus Muller, mengungkapkan bahwa harga gas alam di Jerman diproyeksikan akan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan mendatang. Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama gangguan pasokan gas, yang pada gilirannya menekan pasar energi Eropa.
Konflik yang berkepanjangan di wilayah produksi utama, khususnya di negara-negara produsen gas alam seperti Qatar dan Iran, menyebabkan penurunan aliran gas melalui jalur pipa dan terminal LNG. Hal ini memperkecil volume ekspor ke Eropa sebesar 5-7% pada kuartal pertama 2024, menurut data internal Badan Jaringan Federal.
Berikut perkiraan kenaikan harga gas Jerman berdasarkan skenario yang disampaikan oleh Muller:
| Kuartal | Perkiraan Kenaikan Harga (%) |
|---|---|
| Q1 2024 | 3-5% |
| Q2 2024 | 6-9% |
| Q3 2024 | 10-12% |
| Q4 2024 | 12-15% |
Kenaikan tarif ini diperkirakan akan berdampak pada biaya produksi industri, terutama sektor kimia dan manufaktur, serta menambah beban rumah tangga. Pemerintah Jerman telah menyatakan akan meningkatkan subsidi energi dan mempercepat transisi ke sumber energi terbarukan guna meredam efek inflasi.
Di tingkat Uni Eropa, para pembuat kebijakan tengah meninjau kembali kebijakan keamanan pasokan energi, termasuk diversifikasi sumber LNG dan peningkatan kapasitas penyimpanan strategis. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan pada pasar Timur Tengah dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, prediksi kenaikan harga gas mencerminkan kerentanan pasar energi Eropa terhadap gejolak geopolitik di wilayah produsen. Pengamat memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, tekanan harga dapat melampaui estimasi saat ini, mengharuskan penyesuaian kebijakan energi lebih agresif.