Setapak Langkah – 08 April 2026 | Pemerintah Jepang mengumumkan kebijakan baru untuk menurunkan penggunaan gas alam cair (LNG) dalam pembangkit listrik dan menggantinya dengan peningkatan produksi listrik berbasis batu bara. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menstabilkan pasokan energi nasional di tengah fluktuasi pasar global dan tekanan geopolitik.
Langkah tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama:
- Kenaikan harga LNG secara signifikan selama dua tahun terakhir.
- Keterbatasan pasokan LNG akibat konflik geopolitik di wilayah Asia.
- Kebutuhan mendesak untuk memastikan kestabilan jaringan listrik selama musim panas dan musim dingin.
Pemerintah menargetkan penurunan konsumsi LNG sebesar 10% dalam dua tahun ke depan, sekaligus meningkatkan kapasitas pembangkit batu bara sebesar 5 gigawatt (GW). Proyeksi energi nasional setelah penyesuaian kebijakan ditunjukkan pada tabel berikut:
| Sumber Energi | Persentase Saat Ini | Target 2025 |
|---|---|---|
| LNG | 23% | 13% |
| Batu Bara | 26% | 31% |
| Energi Terbarukan | 22% | 25% |
| Energi Nuklir | 18% | 18% |
| Minyak Bumi | 11% | 13% |
Pengalihan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jepang pada impor LNG, sekaligus memanfaatkan cadangan batu bara domestik yang relatif melimpah. Namun, keputusan ini menuai kritik dari kalangan lingkungan hidup yang mengingat dampak emisi karbon dari pembangkit batu bara.
Para ahli energi menilai bahwa peningkatan penggunaan batu bara bersifat sementara, dengan harapan teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS) akan diterapkan secara luas dalam jangka menengah. Sementara itu, pemerintah berjanji akan tetap mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk tenaga surya dan angin, sebagai bagian dari transisi energi jangka panjang.
Dengan kebijakan ini, Jepang berusaha menyeimbangkan antara keamanan energi, stabilitas harga, dan komitmen terhadap pengurangan emisi. Implementasi kebijakan akan dimonitor secara ketat, dan penyesuaian lebih lanjut dapat dilakukan jika terjadi perubahan signifikan di pasar energi global.