Setapak Langkah – 12 April 2026 | Baru-baru ini, badan intelijen Amerika Serikat (CIA) mengeluarkan penilaian yang menegaskan kembali kemampuan persenjataan Iran. Meskipun negara tersebut telah menjadi target serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel selama lebih dari empat puluh hari, intelijen AS menyatakan Iran masih menyimpan ribuan rudal balistik yang siap pakai.
Penilaian ini bertentangan dengan narasi awal yang menyatakan bahwa operasi udara berulang-ulang berhasil menurunkan secara signifikan daya serang strategis Tehran. Menurut laporan, sebagian besar rudal balistik tersebut masih berada dalam fasilitas tersembunyi dan dapat dipindahkan ke lokasi lain dengan cepat.
Berikut adalah perkiraan jenis rudal balistik yang diperkirakan masih berada dalam persediaan Iran, beserta estimasi jumlah masing‑masing:
| Jenis Rudal | Perkiraan Jumlah |
|---|---|
| Rudal Short‑Range (SRBM) | 1.200‑1.500 unit |
| Rudal Medium‑Range (MRBM) | 800‑1.000 unit |
| Rudal Intermediate‑Range (IRBM) | 300‑500 unit |
Keberadaan persediaan rudal dalam jumlah besar ini menimbulkan kekhawatiran di antara para pembuat kebijakan regional dan internasional. Iran dapat menggunakan rudal tersebut sebagai alat tawar menawar dalam negosiasi diplomatik atau sebagai respons balasan terhadap serangan selanjutnya.
Para analis militer menyoroti bahwa kemampuan mobilitas dan penyamaran infrastruktur militer Iran menjadi faktor utama yang membuat upaya penghancuran oleh pesawat tempur dan drone menjadi kurang efektif. Selain itu, jaringan produksi domestik Iran yang terus berkembang memungkinkan penggantian persediaan rudal yang hilang.
Dalam konteks geopolitik, penilaian ini dapat memengaruhi strategi Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Pihak AS mungkin akan menyesuaikan taktiknya, beralih ke operasi khusus yang menargetkan pusat komando atau memperkuat pertahanan rudal di negara‑negara sekutu. Sementara itu, Israel menegaskan komitmennya untuk terus menekan program rudal Iran demi keamanan nasionalnya.
Secara keseluruhan, laporan intelijen ini menegaskan kembali bahwa Iran masih menjadi aktor kunci dalam dinamika keamanan kawasan, dengan kemampuan rudal balistik yang signifikan meski berada di tengah tekanan militer yang intens.