Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Purbaya) menegaskan bahwa kondisi fiskal dan moneter Indonesia akan tetap stabil pada kuartal I tahun 2026 meski dihadapkan pada gejolak ekonomi global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diadakan pada awal Februari 2026.
Rapat tersebut meninjau sejumlah indikator kunci, termasuk defisit anggaran, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Beberapa poin penting yang disepakati antara lain:
- Fiskal: Target defisit anggaran tetap pada kisaran 3,0‑3,5% dari PDB, dengan penekanan pada pengendalian belanja non‑produktif dan peningkatan penerimaan pajak melalui reformasi administrasi.
- Utang: Rasio utang pemerintah dijaga di bawah 40% PDB, dengan strategi refinancing yang mengutamakan obligasi berjangka menengah dan panjang.
- Moneter: Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% untuk menahan tekanan inflasi yang diproyeksikan berada di 2,5‑3,0%.
- Ketahanan nilai tukar: Intervensi pasar valuta asing akan terus dilakukan secara selektif untuk menstabilkan Rupiah di tengah fluktuasi harga minyak dan komoditas.
Berikut rangkuman target dan realisasi beberapa indikator utama pada kuartal I‑2026:
| Indikator | Target Q1‑2026 | Realisasi (perkiraan) |
|---|---|---|
| Defisit Anggaran | 3,2% PDB | 3,1% PDB |
| Rasio Utang Pemerintah | 39,5% PDB | 38,8% PDB |
| Inflasi YoY | 2,7% | 2,6% |
| Suku Bunga Acuan (BI 7‑D) | 5,75% | 5,75% |
| Nilai Tukar Rupiah/USD | 14.600 | 14.720 |
Selain angka-angka tersebut, rapat menyoroti risiko eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian, antara lain ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menaikkan harga energi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi utama dunia. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, KSSK sepakat memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, serta meningkatkan cadangan devisa sebagai buffer.
Dalam sesi tanya‑jawab, Menteri Purbaya menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang responsif namun tetap disiplin. Ia menambahkan, “Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika global, tetapi dengan fondasi fiskal yang kuat dan kebijakan moneter yang tepat, Indonesia dapat menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kesejahteraan masyarakat.”
Rapat KSSK kuartal I‑2026 menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, dan ketahanan fiskal dalam menghadapi ketidakpastian global.