Setapak Langkah – 21 Juli 2026 | Harga minyak mentah dunia kembali melambung lebih dari satu persen setelah aksi blokade pelabuhan oleh kelompok Houthi di wilayah lepas pantai Arab Saudi. Kenaikan ini menambah tekanan pada pasar yang sudah berada dalam kondisi volatilitas tinggi.
Blokade yang dilakukan sejak awal minggu ini menutup akses kapal tanker ke pelabuhan utama di Arab Saudi, salah satu produsen minyak terbesar dunia. Penutupan jalur logistik tersebut mengurangi pasokan fisik sekaligus menimbulkan ketidakpastian bagi para pedagang.
Berikut beberapa faktor utama yang mendorong lonjakan harga:
- Gangguan pasokan dari Arab Saudi akibat blokade.
- Peningkatan permintaan global yang masih kuat pasca‑pandemi.
- Kekhawatiran pasar tentang kemungkinan eskalasi konflik di Teluk Persia.
- Spekulasi investor yang menimbun kontrak berjangka minyak.
Analisis pasar memperkirakan bahwa jika situasi blokade berlanjut, harga minyak Brent dapat menembus level USD100 per barel dalam beberapa minggu mendatang. Level tersebut sebelumnya hanya tercapai pada tahun 2008.
Bank investasi dan lembaga riset energi menyarankan para pelaku pasar untuk memperhatikan volatilitas yang tinggi serta menyiapkan strategi lindung nilai guna mengelola risiko. Sementara itu, konsumen energi di seluruh dunia diprediksi akan merasakan dampak kenaikan harga ini melalui tarif yang lebih tinggi.