Setapak Langkah – 02 April 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gempa bumi yang baru-baru ini mengguncang wilayah Koltim (Kalimantan Timur) dipicu oleh pergerakan sesar aktif, bukan aktivitas vulkanik. Menurut analisis awal, gempa tersebut tergolong tektonik dengan magnitudo 5,2 pada skala Richter dan berpusat di kedalaman sekitar 10 kilometer.
Aktivitas sesar aktif merupakan salah satu penyebab utama gempa tektonik di Indonesia. Sesar‑sesar ini merupakan patahan pada lapisan batuan bumi yang terus mengalami tekanan akibat pergerakan lempeng tektonik. Ketika tekanan tersebut melebihi batas kekuatan batuan, terjadilah pelepasan energi yang terasa sebagai gempa.
Berikut beberapa poin penting yang disampaikan BMKG dalam keterangan resminya:
- Gempa berkekuatan 5,2 SR (Skala Richter) terjadi pada tanggal 1 April 2026 pukul 03:45 WIB.
- Pusat gempa berada di kedalaman 10 km, menandakan sumbernya berasal dari patahan tektonik.
- Sesar aktif yang terlibat adalah Sesar Mahakam‑Barito, yang telah tercatat menghasilkan gempa serupa pada tahun‑tahun sebelumnya.
- BMKG menegaskan tidak ada hubungan dengan aktivitas gunung berapi di wilayah tersebut.
- Instansi terkait telah meningkatkan pemantauan seismik dan mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, tabel berikut merangkum data gempa tektonik signifikan yang terjadi di Koltim selama lima tahun terakhir:
| Tanggal | Magnitudo | Kedalaman (km) | Sesar |
|---|---|---|---|
| 12 Des 2022 | 5,0 | 12 | Sesar Mahakam‑Barito |
| 23 Aug 2023 | 4,8 | 9 | Sesar Mahakam‑Barito |
| 07 Mar 2024 | 5,1 | 11 | Sesar Mahakam‑Barito |
| 19 Nov 2025 | 5,3 | 8 | Sesar Mahakam‑Barito |
| 01 Apr 2026 | 5,2 | 10 | Sesar Mahakam‑Barito |
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, termasuk menyiapkan peralatan darurat, mengikuti prosedur evakuasi, dan tetap mengikuti informasi resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain itu, pemantauan intensif terhadap sesar aktif akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi potensi gempa di masa mendatang.
Para ahli geofisika menilai bahwa keberadaan sesar aktif di wilayah Kalimantan Timur menambah kompleksitas risiko seismik Indonesia, yang terletak di zona pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Upaya mitigasi yang melibatkan pendidikan publik, penataan infrastruktur tahan gempa, serta sistem peringatan dini menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana.