Setapak Langkah – 05 April 2026 | Pada fase awal konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, serangkaian serangan udara menargetkan lembaga pendidikan tinggi di negara tersebut. Hingga kini, tercatat sebanyak tiga puluh universitas dan institusi riset telah menjadi sasaran, menandai perubahan taktik dari fokus militer tradisional ke infrastruktur sipil yang berperan penting dalam pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Insiden paling menonjol terjadi pada sebuah fasilitas di Universitas Shahid Beheshti, yang terletak di utara Teheran. Pada Jumat lalu, sebuah pusat penelitian khusus, Institut Penelitian Laser dan Plasma, hancur lebur setelah dibom oleh pesawat tempur yang diduga milik koalisi AS‑Israel. Kerusakan tidak hanya menghilangkan laboratorium berteknologi tinggi, tetapi juga menelan korban jiwa dan menimbulkan kepanikan di kalangan akademisi.
Berikut adalah contoh beberapa institusi yang dilaporkan menjadi target sejak awal perang:
- Universitas Shahid Beheshti – Institut Penelitian Laser dan Plasma
- Universitas Tehran – Fakultas Fisika
- Universitas Sharif – Pusat Teknologi Nuklir
- Universitas Amirkabir – Laboratorium Robotika
- Universitas Isfahan – Pusat Studi Material
Strategi ini mencerminkan upaya melemahkan kemampuan Iran dalam bidang ilmiah dan teknologinya, khususnya dalam bidang yang dapat berkontribusi pada program militer. Menurut para pengamat, menargetkan kampus dan laboratorium dapat memperlambat pengembangan senjata canggih serta menurunkan moral ilmuwan yang menjadi aset strategis negara.
Reaksi domestik di Iran sangat keras. Mahasiswa, dosen, dan peneliti menggelar demonstrasi di beberapa kota, menuntut penghentian serangan dan menegaskan pentingnya kebebasan akademik. Di sisi lain, pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan ini merupakan pelanggaran hukum internasional dan menyerukan dukungan internasional untuk melindungi lembaga pendidikan.
Sementara itu, komunitas internasional memberikan respons beragam. Beberapa negara menyuarakan keprihatinan atas eskalasi konflik ke zona sipil, namun belum ada tindakan konkret yang diambil. Organisasi hak asasi manusia menekankan perlunya penyelidikan independen terhadap setiap serangan yang menargetkan fasilitas pendidikan.
Implikasi jangka panjang bagi Iran meliputi:
- Penurunan output penelitian dan publikasi ilmiah.
- Kehilangan infrastruktur kritis yang memerlukan waktu bertahun‑tahun untuk dibangun kembali.
- Terbatasnya kolaborasi internasional akibat rasa tidak aman bagi peneliti asing.
- Potensi brain drain, dimana ilmuwan beralih ke negara lain yang lebih stabil.
Secara keseluruhan, serangan terhadap universitas-universitas ini menandai babak baru dalam konflik yang tidak lagi terbatas pada medan perang tradisional, melainkan merambah ke arena ilmu pengetahuan dan pendidikan yang menjadi tulang punggung perkembangan suatu bangsa.