Setapak Langkah – 09 April 2026 | Menjelang penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026, Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjardua di Kalimantan Selatan tengah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasi potensi keterlambatan penyelesaian gedung baru. Pihak sekolah mengakui bahwa faktor cuaca, keterbatasan material, dan proses perizinan dapat memperpanjang jadwal konstruksi yang semula direncanakan selesai pada akhir 2025.
Untuk memastikan proses belajar mengajar tidak terhambat, manajemen sekolah menyusun tiga skenario utama yang dapat diaktifkan secara bersamaan atau bertahap, tergantung pada tingkat keterlambatan yang terjadi.
- Skenario A – Kelas Temporer: Menyewa atau mengonversi ruang-ruang publik di sekitar kampus, seperti balai desa atau aula komunitas, menjadi kelas sementara dengan fasilitas dasar.
- Skenario B – Kolaborasi Sekolah Tetangga: Mengadakan perjanjian sementara dengan sekolah-sekolah lain di Banjarbaru untuk memanfaatkan ruang kelas yang masih tersedia, termasuk pengaturan jadwal bergilir.
- Skenario C – Pembelajaran Digital Terpadu: Memperluas penggunaan platform e‑learning, menyediakan perangkat keras dan akses internet bagi siswa yang belajar dari rumah, serta mengadakan sesi tatap muka terbatas di laboratorium komputer.
Selain tiga skenario utama, sekolah juga menyiapkan rencana cadangan berupa pembangunan modular yang dapat dipasang cepat jika kondisi lapangan memungkinkan. Semua alternatif tersebut telah disosialisasikan kepada orang tua, guru, dan komite sekolah melalui rapat daring dan pertemuan tatap muka.
Ketua Yayasan Sekolah Rakyat Banjarbaru menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada kualitas pendidikan. “Kami tidak ingin siswa kehilangan hak belajar karena keterlambatan infrastruktur. Oleh karena itu, fleksibilitas dan kesiapan alternatif menjadi landasan strategi kami,” ujarnya.
Pengawasan proyek pembangunan kini diperkokoh dengan penunjukan konsultan independen untuk memantau progres harian serta melaporkan setiap kendala secara transparan kepada semua pemangku kepentingan. Diharapkan, dengan pendekatan proaktif ini, proses penerimaan siswa baru dapat berjalan lancar meski terdapat tantangan struktural.