Setapak Langkah – 06 Agustus 2026 | Penutupan Selat Hormuz yang strategis di Timur Tengah mengguncang pasar energi global. Selama beberapa bulan, pasokan minyak terhambat sehingga harga minyak mentah melambung tinggi. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi perusahaan minyak multinasional, terutama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi besar.
Berikut lima perusahaan minyak yang mencatatkan keuntungan tertinggi selama konflik tersebut, dengan Saudi Aramco menempati puncak pencapaian.
| Perusahaan | Keuntungan (dalam Rupiah) | Catatan |
|---|---|---|
| Saudi Aramco | Rp585 Triliun | Keuntungan tertinggi berkat kontrol produksi dan penjualan minyak mentah global. |
| ExxonMobil | Rp210 Triliun | Mengoptimalkan operasi di wilayah Asia-Pasifik dan memperkuat penjualan LNG. |
| Chevron | Rp180 Triliun | Manfaat dari penjualan minyak mentah serta peningkatan margin pada produk turunan. |
| Royal Dutch Shell | Rp165 Triliun | Keuntungan didorong oleh penjualan gas alam cair (LNG) dan strategi hedging yang efektif. |
| TotalEnergies | Rp150 Triliun | Mengandalkan jaringan distribusi di Eropa dan Asia serta penjualan bahan bakar jet. |
Analisis menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak hanya meningkatkan pendapatan penjualan, tetapi juga memperlebar margin laba karena biaya produksi relatif stabil. Saudi Aramco, sebagai pemilik cadangan minyak terbesar dunia, mampu menyesuaikan produksi dengan cepat sehingga memaksimalkan keuntungan. Sementara perusahaan lain memanfaatkan kontrak jangka panjang dan diversifikasi produk untuk mengurangi risiko volatilitas pasar.
Secara makroekonomi, lonjakan keuntungan ini berdampak pada pasar saham energi, meningkatkan nilai kapitalisasi pasar dan menarik investasi baru. Namun, ketergantungan pada harga minyak yang tinggi juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan profitabilitas bila geopolitik kembali stabil.