Setapak Langkah – 20 Juli 2026 | Seorang pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa lebih dari tiga perempat penderita diabetes di tanah air belum mengetahui kondisi mereka. Angka ini menandakan bahwa sekitar 73 persen populasi dengan diabetes tidak terdiagnosis, sehingga berisiko mengembangkan komplikasi serius tanpa penanganan medis.
Data ini didapatkan dari hasil survei kesehatan nasional yang menilai prevalensi diabetes serta tingkat kesadaran pasien terhadap penyakitnya. Temuan tersebut menyoroti pentingnya peningkatan upaya skrining dan edukasi publik agar lebih banyak orang dapat terdeteksi dini.
Berikut beberapa konsekuensi utama yang dapat muncul bila diabetes tidak terdiagnosis:
- Kerusakan pada pembuluh darah, yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan stroke.
- Kebutaan akibat retinopati diabetik.
- Kerusakan saraf perifer yang berpotensi menimbulkan luka kaki hingga amputasi.
- Gangguan fungsi ginjal yang berujung pada gagal ginjal.
Beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat diagnosis meliputi:
- Keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil.
- Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal diabetes, seperti peningkatan rasa haus, sering buang air kecil, dan penurunan berat badan.
- Stigma sosial yang membuat sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan.
- Biaya pemeriksaan yang dianggap tinggi oleh sebagian masyarakat.
Pakar menyarankan beberapa langkah strategis untuk menurunkan angka tersebut, antara lain memperluas program skrining gratis di puskesmas, meningkatkan kampanye edukasi melalui media massa, serta melibatkan tenaga kesehatan komunitas dalam deteksi awal. Dengan upaya bersama, diharapkan angka penderita diabetes yang tidak terdiagnosis dapat berkurang secara signifikan, meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi beban ekonomi kesehatan nasional.