Setapak Langkah – 03 Juli 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz akhir-akhir ini meningkat akibat konflik geopolitik dan serangan militer yang mengganggu jalur pelayaran utama minyak dunia. Selat tersebut menjadi titik krusial bagi pengiriman minyak mentah ke Asia, termasuk Indonesia.
Menanggapi risiko gangguan pasokan, PT Pertamina (Persero) mempercepat proses perizinan kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) yang akan melintasi Selat Hormuz. Izin tersebut mencakup koordinasi dengan otoritas maritim internasional, penyesuaian rute, serta penerapan protokol keamanan tambahan.
Langkah-langkah utama yang ditempuh Pertamina antara lain:
- Pengajuan dokumen izin pelayaran khusus ke otoritas pelabuhan dan maritim Indonesia.
- Negosiasi dengan pemilik kapal VLCC untuk memastikan kesiapan teknis dan keamanan.
- Pengawasan real‑time terhadap situasi geopolitik dan cuaca di Selat Hormuz.
- Penyiapan cadangan logistik di pelabuhan tujuan, termasuk di Pelabuhan Cilacap.
Kilang Cilacap, sebagai salah satu kilang terbesar di Indonesia, sangat bergantung pada pasokan minyak mentah impor. Jika aliran minyak terhambat, produksi bahan bakar dan produk petrokimia dapat terdampak, berpotensi memicu kenaikan harga energi domestik.
Pertamina menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional dengan mengoptimalkan rute alternatif bila diperlukan, termasuk melalui Selat Malaka atau jalur darat‑laut. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan gangguan pada pasokan minyak ke kilang‑kilang utama, terutama Cilacap.