Setapak Langkah – 10 Juni 2026 | Baru‑baru ini, dua pesawat tempur utama dari Rusia dan Prancis saling bersilangan di ruang udara Laut Baltik, memberikan kesempatan bagi para pengamat untuk menilai performa masing‑masing dalam kondisi nyata.
Su‑35 milik Angkatan Udara Rusia dikenal sebagai varian paling mutakhir dari rangkaian Su‑30/35, menampilkan dorong‑dorong vektor thrust yang memberikan kelincahan luar biasa pada kecepatan supersonik. Pesawat ini dilengkapi radar phasing array Irbis‑E dengan jangkauan deteksi lebih dari 400 km, serta sistem pertahanan elektronik kelas tinggi.
Sementara itu, Rafale buatan Dassault Aviation mewakili filosofi “fly‑by‑wire” Prancis dengan desain aerodinamis yang mengutamakan kecepatan manuver pada kecepatan subsonik dan supersonik. Radar RBE2‑AA AESA milik Rafale mampu melacak lebih dari 50 target sekaligus, dan paket avionik terintegrasi memberikan fleksibilitas dalam peran multirole.
| Aspek | Su‑35 | Rafale |
|---|---|---|
| Kecepatan maksimum | Mach 2,25 (≈2.400 km/jam) | Mach 1,8 (≈1.900 km/jam) |
| Jangkauan tempur | 3.600 km (dengan tanker) | 2.900 km (dengan tanker) |
| Radar | Ir‑bIs‑E (phased‑array, >400 km) | RBE2‑AA (AESA, >200 km) |
| Senjata utama | R-77, R-73, R-27, bom pintar | MICA, Meteor, AM-39 Exocet, bom presisi |
| Manuverabilitas | Thrust‑vectoring 3‑axis, roll rate 180°/s | Fly‑by‑wire, roll rate 180°/s, delta wing‑canard |
| Sistem pertahanan | ALR‑99, ECM suite | SPECTRA, ECM suite |
Dalam pertemuan di Laut Baltik, kedua pesawat tampak menilai satu sama lain dari jarak aman, tanpa melakukan aksi tembak. Analisis visual menunjukkan Su‑35 memanfaatkan keunggulan thrust‑vectoring untuk melakukan putaran tajam, sedangkan Rafale mengandalkan kontrol permukaan sayap dan canard untuk mempertahankan kestabilan pada kecepatan tinggi.
Kelebihan utama Su‑35 terletak pada jangkauan radar yang lebih luas dan kemampuan membawa beban senjata yang lebih besar, menjadikannya ancaman serius dalam pertempuran jarak jauh. Namun, beratnya yang lebih tinggi dan konsumsi bahan bakar yang besar dapat menjadi kendala pada operasi berkelanjutan.
Rafale, di sisi lain, menonjolkan integrasi sistem avionik yang lebih modern serta kemampuan stealth relatif pada bagian depan badan. Fleksibilitas peran—mulai dari superioritas udara, serangan darat, hingga misi pengintaian—menjadikannya platform serbaguna yang lebih mudah disesuaikan dengan taktik NATO.
Kesimpulannya, pertemuan tersebut memperlihatkan dua filosofi desain yang berbeda: Su‑35 mengandalkan kekuatan mentah dan jangkauan sensor, sementara Rafale menekankan kecanggihan elektronik dan fleksibilitas operasional. Kedua pesawat tetap menjadi pilar utama dalam strategi pertahanan masing‑masing negara, dan perbandingan ini akan terus menjadi bahan diskusi bagi para ahli militer.