Setapak Langkah – 14 Mei 2026 | Institusi keamanan seperti Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya kini berada di bawah komando jenderal bintang tiga. Perspektif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menjelaskan sejumlah faktor strategis yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
1. Pengalaman Operasional yang Mendalam
Jenderal bintang tiga biasanya telah menempuh karier lebih dari dua dekade di bidang militer atau kepolisian. Pengalaman ini mencakup operasi kontra-teror, penanggulangan bencana, serta koordinasi lintas‑instansi, sehingga mereka dianggap paling siap memimpin unit dengan tanggung jawab tinggi.
2. Kemampuan Koordinasi Antar‑Lembaga
ISESS menekankan pentingnya sinergi antara polisi dan militer dalam menjaga keamanan metropolitan. Seorang jenderal bintang tiga memiliki jaringan kerja yang luas di tingkat pusat dan daerah, memudahkan integrasi strategi keamanan antara Polda dan Kodam.
3. Kesiapan Menghadapi Ancaman Kompleks
- Terorisme modern yang bersifat asimetris.
- Keamanan siber yang semakin mengancam infrastruktur kritis.
- Kerawanan sosial‑ekonomi yang dapat memicu konflik horizontal.
Dengan latar belakang strategis, jenderal bintang tiga diharapkan dapat merancang respons multidimensi terhadap ancaman-ancaman tersebut.
4. Kepemimpinan Berbasis Data dan Analisis
ISESS mencatat bahwa institusi keamanan kini mengandalkan intelijen berbasis data. Seorang jenderal senior biasanya memiliki akses ke pusat data intelijen nasional, memungkinkan pembuatan kebijakan yang berbasis bukti.
5. Stabilitas Politik dan Kepercayaan Publik
Penempatan jenderal bintang tiga juga dipandang sebagai upaya memperkuat legitimasi institusi keamanan di mata publik. Kepemimpinan yang tegas namun profesional dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat.