Setapak Langkah – 13 Mei 2026 | Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mendapat himbauan untuk menitikberatkan tradisi keilmuan dalam proses pemilihan kepemimpinan. Himbauan ini muncul sebagai upaya menjaga integritas organisasi dan memastikan kepemimpinan yang terpilih mampu melanjutkan warisan ilmu serta nilai-nilai keislaman yang telah menjadi landasan gerakan Nahdlatul Ulama.
Berikut beberapa alasan utama mengapa tradisi keilmuan dianggap krusial dalam konteks pemilihan pemimpin PBNU:
- Kekayaan Ilmu: NU memiliki jaringan ulama, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam yang luas. Pemimpin yang memiliki latar belakang keilmuan kuat dapat menghubungkan kebijakan organisasi dengan pemahaman agama yang mendalam.
- Kredibilitas Moral: Tradisi keilmuan menuntut integritas, kejujuran, dan keteladanan. Pemimpin yang dibekali dengan nilai-nilai tersebut lebih dipercaya oleh anggota dan masyarakat luas.
- Konsistensi Kebijakan: Dengan landasan keilmuan, keputusan strategis dapat selaras dengan prinsip syariah serta ajaran Islam yang moderat, sehingga meminimalisir konflik internal.
- Penguatan Identitas NU: Memilih pemimpin berdasarkan tradisi keilmuan menegaskan identitas organisasi sebagai kekuatan intelektual Islam yang progresif.
Selain itu, proses pemilihan yang transparan dan akuntabel juga ditekankan. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Penyaringan calon melalui panel keilmuan independen.
- Penilaian rekam jejak kontribusi akademik dan keagamaan.
- Dialog terbuka dengan anggota PBNU untuk menilai visi-misi calon.
- Penggunaan sistem voting yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan mengedepankan tradisi keilmuan, PBNU diharapkan dapat menghasilkan kepemimpinan yang tidak hanya kompeten secara administratif, tetapi juga memiliki kemampuan spiritual dan intelektual untuk menghadapi tantangan zaman. Harapan besar masyarakat NU adalah terpilihnya pemimpin yang mampu menjembatani antara modernitas dan nilai-nilai keislaman, sehingga organisasi dapat terus berperan aktif dalam pembangunan bangsa.