Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan pentingnya program pemilahan sampah sejak sumbernya untuk menurunkan beban operasional Taman Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya mengurangi volume limbah yang masuk ke TPST, tetapi juga mempercepat proses daur ulang serta menekan biaya pengelolaan sampah kota.
TPST Bantargebang, yang berfungsi sebagai pusat pengolahan akhir sampah DKI Jakarta, selama ini menerima lebih dari 5.000 ton sampah per hari. Sebagian besar sampah tersebut masih berupa campuran organik dan anorganik, sehingga proses pemrosesan menjadi lebih rumit dan mahal. Dengan memisahkan sampah pada tingkat rumah tangga, industri, dan institusi, diharapkan volume sampah yang harus diproses di TPST dapat berkurang secara signifikan.
Berikut adalah langkah‑langkah utama yang dijalankan dalam program pilah sampah dari sumber:
- Penyuluhan dan edukasi: Tim Dinas Lingkungan Hidup mengadakan sosialisasi rutin di RW/RT, sekolah, serta tempat kerja untuk menjelaskan cara memisahkan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya.
- Penyediaan tempat sampah terpisah: Pemerintah menyediakan tiga jenis tempat sampah berwarna berbeda di setiap rumah tangga dan area publik, memudahkan warga dalam memilah sampah.
- Penerapan insentif: Warga yang konsisten memisahkan sampah mendapatkan potongan tarif retribusi sampah atau voucher belanja.
- Penguatan jaringan daur ulang: Kerjasama dengan perusahaan daur ulang lokal meningkatkan kapasitas penyerapan sampah anorganik yang sudah terpilah.
- Monitoring dan penegakan: Dinas melakukan inspeksi berkala serta menerapkan sanksi bagi pihak yang tidak mematuhi aturan pemilahan.
Data awal yang dirilis menunjukkan penurunan sebesar 15-20 persen pada volume sampah yang masuk ke TPST sejak peluncuran program pada awal tahun ini. Jika tren ini berlanjut, target jangka menengah adalah menurunkan beban TPST hingga 30 persen pada tahun 2027.
Selain manfaat ekonomi, program ini juga diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah, serta memperbaiki kualitas udara di sekitar kawasan TPST. Pramono menutup pernyataannya dengan menyerukan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, karena keberhasilan program bergantung pada kesadaran kolektif dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.