Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Dalam pertemuan ke-31 KTT ASEAN yang diadakan di Jakarta, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi menjadi agenda utama yang harus mendapat perhatian khusus semua negara anggota. Menurutnya, gejolak yang terjadi di Asia Barat, terutama konflik yang melibatkan wilayah produksi minyak dan gandum, memberi dampak langsung pada stabilitas ekonomi dan keamanan makanan di kawasan Asia Tenggara.
Retno menjelaskan bahwa ketergantungan pada impor bahan pangan dan energi menimbulkan kerentanan bila pasokan dunia terganggu. Oleh karena itu, ASEAN perlu memperkuat kerja sama dalam tiga bidang utama: diversifikasi sumber energi, peningkatan produksi pertanian berkelanjutan, dan pembentukan mekanisme cadangan strategis yang dapat diaktifkan secara cepat.
Berikut poin‑poin kunci yang diangkat dalam diskusi:
- Pengembangan energi terbarukan, termasuk tenaga surya dan angin, untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
- Peningkatan teknologi pertanian, seperti penggunaan varietas tahan iklim dan sistem irigasi cerdas, guna meningkatkan produktivitas lahan.
- Pembentukan dana bersama ASEAN untuk mendukung negara‑negara yang mengalami krisis pangan atau energi.
- Penguatan jaringan logistik regional untuk memastikan distribusi barang pokok yang efisien.
Retno juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan lembaga internasional serta negara donor untuk mengakses teknologi dan pendanaan yang diperlukan. Ia menegaskan bahwa upaya kolektif ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan nasional masing‑masing, tetapi juga meningkatkan posisi ASEAN sebagai blok ekonomi yang tangguh di panggung global.
Para pemimpin ASEAN menyambut baik usulan tersebut dan berkomitmen untuk menindaklanjuti melalui pembentukan kelompok kerja khusus yang akan merumuskan kebijakan konkret dalam jangka pendek dan menengah.