Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Jakarta International Convention Center (JICC) akan menjadi tuan rumah METCONNEX 2026 pada 11‑13 Mei 2026. Acara tahunan ini kembali dihadirkan setelah penundaan sebelumnya, dengan fokus utama pada penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pertambangan serta peran strategis mineral kritis bagi perekonomian Indonesia.
METCONNEX 2026 dirancang sebagai platform kolaboratif bagi pemerintah, perusahaan tambang, startup teknologi, serta lembaga riset untuk berbagi pengetahuan, menampilkan inovasi, dan merumuskan kebijakan yang mendukung transformasi digital industri pertambangan.
Agenda utama
- Keynote tentang tren AI global dan implikasinya bagi eksplorasi serta operasi tambang.
- Panel diskusi mengenai pemetaan sumber daya mineral kritis Indonesia, termasuk litium, kobalt, dan nikel.
- Workshop praktis tentang penggunaan sensor IoT, analitik data, dan robotika dalam meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja.
- Presentasi studi kasus perusahaan tambang yang berhasil mengurangi biaya operasional hingga 20% lewat otomatisasi.
- Forum kebijakan untuk memperkuat regulasi yang memfasilitasi investasi di sektor mineral kritis.
Para pembicara diharapkan meliputi pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, eksekutif dari perusahaan tambang BUMN, serta pakar AI terkemuka dari universitas dan perusahaan teknologi internasional.
Pentingnya mineral kritis semakin mengemuka seiring dengan percepatan transisi energi bersih. Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, berupaya mengoptimalkan nilai tambah melalui pengolahan dalam negeri dan penerapan teknologi canggih. METCONNEX 2026 menjadi ajang penting untuk mengintegrasikan ekosistem ini, mempertemukan investor, peneliti, dan praktisi dalam satu ruang.
Dengan latar belakang JICC yang modern dan kapasitas internasional, konferensi ini diharapkan menarik partisipasi peserta dari lebih dari 30 negara, memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat inovasi pertambangan di kawasan Asia‑Pasifik.
Keberhasilan METCONNEX 2026 akan menjadi indikator kesiapan industri pertambangan Indonesia dalam mengadopsi AI, meningkatkan produktivitas, dan memastikan pasokan mineral kritis yang stabil bagi pasar global.