Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghasilkan sekitar enam juta liter minyak jelantah yang dapat diolah menjadi sumber energi hijau. Penemuan ini membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah makanan sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Minyak jelantah, yang biasanya dibuang atau dibuang ke lingkungan, mengandung energi yang setara dengan bahan bakar fosil. Dengan proses penyulingan dan konversi, minyak bekas tersebut dapat diubah menjadi biodiesel atau bioenergi lain yang ramah lingkungan.
- Volume produksi: Sekitar 6.000.000 liter per tahun.
- Potensi energi: Diperkirakan menghasilkan hingga 7.500.000 liter biodiesel, setara dengan 30.000.000 km perjalanan kendaraan diesel.
- Manfaat lingkungan: Mengurangi pencemaran air dan tanah serta menurunkan emisi CO2 dibandingkan pembakaran sampah.
Berikut perkiraan konversi minyak jelantah menjadi biodiesel dan dampak lingkungan yang diharapkan:
| Jenis Produk | Kuantitas (liter) | Pengurangan CO2 (ton) |
|---|---|---|
| Biodiesel | 7.500.000 | ≈ 9.000 |
| Biogas (dari residu) | 1.200.000 | ≈ 1.500 |
BGN berencana menggandeng pihak swasta dan lembaga riset untuk mengembangkan fasilitas pengolahan di beberapa kota besar. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan kemandirian energi nasional.
Selain manfaat ekonomi, program ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia pada agenda perubahan iklim, khususnya target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 29 % pada 2030. Dengan mengoptimalkan limbah jelantah, pemerintah dapat menambah cadangan energi terbarukan tanpa harus mengorbankan lahan pertanian.
Penggunaan energi hijau berbasis jelantah masih memerlukan standar kualitas dan regulasi yang jelas. BGN menekankan pentingnya sertifikasi produk serta pelatihan bagi pengelola limbah untuk memastikan keamanan dan efisiensi proses produksi.
Secara keseluruhan, pemanfaatan enam juta liter minyak jelantah dari MBG menjadi energi hijau tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular yang dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia.