Setapak Langkah – 07 Mei 2026 | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan kembali bahwa pendidikan masa depan harus mengintegrasikan kecerdasan ekologis serta menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi seluruh siswa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi yang membahas strategi pembaruan kurikulum dan kebijakan keselamatan sekolah.
Kecerdasan ekologis dipahami sebagai kemampuan individu untuk memahami, menghargai, dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap lingkungan alam. Dalam konteks sekolah, hal ini meliputi penanaman nilai-nilai keberlanjutan, pengurangan sampah, serta penerapan praktik ramah lingkungan di kelas dan fasilitas sekolah.
Budaya sekolah aman, di sisi lain, menitikberatkan pada upaya pencegahan bullying, penyediaan infrastruktur yang minim risiko, serta penguatan peran guru dan petugas keamanan dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif.
Untuk mewujudkan kedua tujuan tersebut, Mendikdasmen mengusulkan serangkaian langkah konkret:
- Integrasi materi tentang perubahan iklim, daur ulang, dan konservasi energi ke dalam kurikulum nasional mulai kelas 1 hingga kelas 12.
- Penyediaan fasilitas pendukung seperti taman sekolah, komposter, dan panel surya di setiap satuan pendidikan.
- Penyelenggaraan pelatihan intensif bagi guru dan tenaga kependidikan tentang metodologi pengajaran berbasis proyek lingkungan.
- Pembentukan tim keamanan sekolah yang melibatkan siswa, orang tua, dan aparat keamanan lokal untuk menanggulangi potensi bahaya dan perundungan.
- Implementasi program evaluasi berkala yang mengukur tingkat kepedulian ekologis dan keamanan lingkungan belajar.
Abdul Mu’ti menambahkan bahwa keberhasilan inisiatif ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk kementerian terkait, pemerintah daerah, LSM lingkungan, serta dunia usaha. “Kita harus menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap tantangan lingkungan dan sosial,” ujar Mendikdasmen.
Jika dilaksanakan secara konsisten, diharapkan sekolah-sekolah di Indonesia dapat menjadi contoh micro‑kosmos yang menggabungkan pendidikan berkualitas dengan praktik berkelanjutan dan rasa aman yang tinggi. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan prestasi belajar, tetapi juga menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan lingkungan pada generasi muda.