Setapak Langkah – 06 Mei 2026 | Industri penerbangan Indonesia kini merasakan beban berat setelah nilai tukar rupiah melemah drastis dan harga bahan bakar avtur melonjak tajam.
Kenaikan nilai tukar menyebabkan biaya operasional maskapai naik secara signifikan karena sebagian besar avtur dibeli dalam dolar Amerika. Pada kuartal pertama 2024, kurs USD/IDR mencapai 15.800, naik hampir 8% dibandingkan akhir 2023.
Berikut beberapa dampak utama yang dirasakan oleh maskapai penerbangan:
- Kenaikan biaya bahan bakar mencapai sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.
- Penurunan margin laba bersih, dengan beberapa maskapai melaporkan kerugian operasional pada rute domestik.
- Peningkatan tarif tiket yang berisiko menurunkan permintaan penumpang.
- Penundaan atau pembatalan penambahan armada baru.
Data harga avtur per kilogram selama enam bulan terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:
| Bulan | Harga Avtur (USD/kg) |
|---|---|
| Desember 2023 | 0,72 |
| Januari 2024 | 0,78 |
| Februari 2024 | 0,81 |
| Maret 2024 | 0,85 |
| April 2024 | 0,90 |
| Mei 2024 | 0,95 |
Berbagai maskapai, termasuk Garuda Indonesia, Lion Air, dan Citilink, secara terbuka meminta bantuan pemerintah. Mereka menuntut kebijakan penurunan pajak bahan bakar, subsidi sementara, atau penyesuaian kurs resmi guna meredam beban biaya.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyatakan bahwa sedang mempelajari paket bantuan, namun belum ada keputusan final. Sementara itu, otoritas penerbangan mengimbau maskapai untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar melalui program efisiensi operasional.
Jika tekanan ini tidak ditanggulangi, diperkirakan akan terjadi penurunan kapasitas penumpang hingga 5% pada akhir 2024, yang dapat memperlemah sektor pariwisata dan logistik domestik.