Setapak Langkah – 31 Maret 2026 | Di antara deru kereta api yang tak pernah berhenti, sekelompok warga pinggir rel di Jakarta tengah menggerakkan roda harapan. Mereka menata strategi unik: patungan menyewa mikrolet untuk menjemput bantuan sembako yang dijanjikan Presiden Prabobu Subianto, sekaligus menantikan relokasi ke rumah susun (rusun) yang dijanjikan secara gratis atau dengan sewa terjangkau.
Latihan Bertahan Sejak Usia Dini
Selamet Riadi, pria berusia 55 tahun asal Tegal, menjadi contoh nyata perjuangan warga yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bantaran rel sejak menginjak usia tujuh tahun. Dulunya pedagang mainan keliling, kini ia beralih menjadi pemulung demi menutupi kebutuhan dasar. “Saya tidak mampu, tidak ada uang untuk menyewa rumah,” ujarnya sambil menatap rel yang selalu menjadi latar belakang kehidupannya.
Janji Relokasi yang Menggugah
Berita tentang rencana relokasi warga pinggir rel ke rusun muncul sebagai angin segar. Prabowo Subianto, presiden terpilih, dikabarkan turun langsung menanyakan kesiapan mereka. “Kamu mau rumah?” tanya sang presiden, “Mau, yang penting gratis.” Kalimat singkat itu memicu kegembiraan sekaligus skeptisisme di antara warga. Selamet menegaskan, “Jika memang gratis, hidup kami akan berubah total.”
Namun, janji tersebut tidak serta-merta menghapus rasa curiga. Pengalaman sebelumnya dengan proses birokrasi, pembatalan rapat sosialisasi, dan distribusi bantuan yang tidak merata menimbulkan ketidakpercayaan. “Sembako dulu hanya sampai RT saja, tidak sampai warga yang lain,” keluh Selamet.
Patungan Sewa Mikrolet: Taktik Kreatif untuk Sembako Gratis
Untuk memastikan tidak ketinggalan bantuan, warga membentuk kelompok patungan. Mereka mengumpulkan dana seadanya untuk menyewa mikrolet—sebuah bus kecil yang biasanya melayani rute pendek—agar dapat menjemput paket sembako secara langsung dari titik distribusi. Ide ini muncul setelah rumor bahwa bantuan akan diantar ke lokasi strategis, bukan ke setiap rumah.
Patungan tersebut bukan sekadar logistik, melainkan simbol solidaritas. “Kami saling membantu, karena satu orang tidak mampu menanggung semua,” kata seorang wanita yang menolak disebutkan nama. Mikrolet beroperasi setiap pagi, menurunkan paket kepada warga yang menunggu di tepi rel, sekaligus menjadi arena pertukaran informasi seputar proses relokasi.
Harapan Terhadap Rusun: Gratis atau Sewa Terjangkau?
Skema rusun yang dijanjikan oleh pemerintah menyebutkan masa gratis selama enam bulan pertama, setelah itu penghuni diharapkan membayar sewa yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi. Selamet menyatakan tidak masalah bila harus mencicil, asalkan tarifnya berada di bawah Rp500.000 per bulan.
Ia menekankan pentingnya proses yang transparan dan bebas persyaratan berbelit. “Kalau disuruh pindah, saya mau, tapi jangan pakai syarat yang bikin susah,” ujarnya tegas.
Realitas di Lapangan
Hingga kini, proses relokasi masih dalam tahap persiapan. Warga tetap tinggal di area rawan kecelakaan, dengan risiko terserang kereta yang melintas tiap saat. Meski demikian, semangat mereka tidak padam. Patungan mikrolet terus berjalan, dan setiap paket sembako yang tiba menjadi bukti bahwa janji politik masih dapat terwujud, setidaknya dalam bentuk bantuan materi.
Para warga berharap bahwa ketika rusun selesai dibangun, mereka tidak akan lagi menjadi “penumpang” dalam kebijakan, melainkan pemilik rumah yang layak. “Kami menunggu, dan kami siap membayar bila memang diperlukan, asalkan tidak memberatkan,” tutup Selamet dengan harapan yang masih menyala.
Dengan kombinasi kreativitas, solidaritas, dan harapan akan kebijakan yang adil, warga pinggir rel Jakarta menanti hari di mana mereka tidak lagi harus bersaing untuk sembako, melainkan menikmati rumah yang layak dan masa depan yang lebih stabil.