Setapak Langkah – 11 April 2026 | Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa fenomena “inflasi pengamat” kini menjadi sorotan utama dalam perbincangan publik. Menurutnya, istilah tersebut merujuk pada kecenderungan beberapa analis atau media menyajikan perkiraan inflasi yang tidak didukung oleh data resmi, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.
Teddy menambahkan bahwa penyebaran analisis yang tidak faktual dapat merusak persepsi ekonomi rakyat dan memengaruhi keputusan konsumsi serta investasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi data sebelum dipublikasikan, serta perlunya standar etik bagi para pengamat ekonomi.
Dalam konteks kepercayaan publik, Seskab mencatat bahwa survei independen menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap Presiden Prabowo Subianto. Data tersebut, menurut Teddy, mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat kebijakan fiskal.
- Memastikan setiap proyeksi inflasi didasarkan pada data BPS dan Bank Indonesia.
- Mendorong media dan analis untuk menautkan sumber resmi dalam setiap laporan.
- Memperkuat literasi ekonomi publik melalui kampanye edukatif.
Dengan menekankan akurasi data, Teddy berharap fenomena “inflasi pengamat” dapat diminimalisir, sehingga kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, tetap terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.