Setapak Langkah – 10 April 2026 | Ketua Umum Asosiasi Jaringan Penyelenggara Telekomunikasi (APJATEL), Jerry Mangansas Swandy, menegaskan bahwa asosiasi tetap bertekad memperluas jaringan fiber optik di seluruh Indonesia meskipun menghadapi kenaikan biaya operasional dan investasi. Dalam sebuah pernyataan, ia menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti inflasi, kenaikan tarif impor peralatan, serta biaya logistik menjadi penyebab utama meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Walaupun demikian, APJATEL berencana untuk menambah investasi sebesar Rp 12 triliun dalam tiga tahun ke depan, dengan target mencakup lebih dari 10 juta rumah tangga di daerah perkotaan maupun terpencil. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan penetrasi internet broadband nasional hingga 80 persen pada akhir 2026.
Beberapa langkah strategis yang akan dijalankan antara lain:
- Mengoptimalkan penggunaan material lokal untuk menekan biaya impor.
- Memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dalam penyediaan lahan dan perizinan.
- Mendorong kolaborasi dengan operator swasta untuk berbagi infrastruktur (shared infrastructure).
- Mengimplementasikan teknologi terbaru yang lebih efisien dalam pemasangan dan pemeliharaan jaringan.
Berikut adalah proyeksi investasi dan cakupan jaringan yang direncanakan APJATEL:
| Tahun | Investasi (Rp Triliun) | Cakupan Rumah Tangga (Juta) |
|---|---|---|
| 2024 | 3,5 | 3,2 |
| 2025 | 4,0 | 3,5 |
| 2026 | 4,5 | 3,8 |
Jerry Mangansas Swandy menambahkan bahwa keberlanjutan proyek ini sangat bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah serta sinergi antara semua pemangku kepentingan di sektor telekomunikasi. “Kami tidak akan mundur meski biaya naik; sebaliknya, kami akan mencari solusi inovatif agar jaringan fiber dapat menjangkau seluruh pelosok negeri,” ujarnya.
Dengan komitmen kuat tersebut, diharapkan kualitas dan kecepatan akses internet di Indonesia akan terus membaik, sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di berbagai sektor ekonomi.