Setapak Langkah – 31 Juli 2026 | Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menilai bahwa kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di Pulau Bali tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, melainkan juga membuka rangkaian peluang ekonomi baru yang dapat mempercepat diversifikasi sumber pendapatan daerah.
PFII yang direncanakan beroperasi sebagai hub keuangan internasional di Bali diharapkan menjadi magnet bagi investor asing, perusahaan fintech, lembaga keuangan, serta penyedia layanan profesional. Menurut Wamenkeu, sinergi antara sektor keuangan dan pariwisata dapat menciptakan ekosistem yang lebih resilient.
- Fintech dan pembayaran digital: Pengembangan platform pembayaran lintas batas yang melayani wisatawan sekaligus penduduk lokal.
- Pasar modal dan asset management: Penyediaan layanan listing saham, reksa dana, dan manajemen aset yang berbasis di Bali.
- Asuransi dan layanan keuangan mikro: Produk asuransi khusus untuk industri pariwisata serta pembiayaan UMKM.
- Keuangan hijau: Investasi pada proyek energi terbarukan dan inisiatif keberlanjutan yang mendukung agenda “green tourism”.
- EduTech dan pelatihan profesional: Pusat pelatihan keuangan dan sertifikasi yang menyiapkan tenaga kerja lokal.
Berikut perkiraan dampak ekonomi yang diharapkan selama lima tahun pertama operasional PFII:
| Indikator | Proyeksi |
|---|---|
| Investasi asing langsung (FDI) | USD 1,2 miliar |
| Penciptaan lapangan kerja | ≈ 12.000 posisi |
| Peningkatan PDB daerah | +3,5 % |
| Pendapatan pajak tambahan | Rp 850 miliar per tahun |
Wamenkeu menegaskan bahwa pemerintah akan memperkuat regulasi dan infrastruktur pendukung, termasuk peningkatan jaringan internet berkecepatan tinggi, pengembangan zona ekonomi khusus, serta penyederhanaan perizinan bagi perusahaan fintech dan institusi keuangan. “Bali memiliki keunggulan geografis dan budaya yang dapat dipadukan dengan ekosistem keuangan modern, sehingga PFII menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ujar Juda Agung.
Dengan langkah strategis ini, diharapkan Bali tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sektor pariwisata, melainkan menjadi pusat keuangan yang mampu menarik investasi berkelanjutan dan menciptakan peluang kerja bagi generasi mendatang.