Setapak Langkah – 13 Mei 2026 | Konferensi keempat tahunan yang mempertemukan pejabat tinggi dari Afrika dan Asia dibuka pada Selasa di Nairobi, Kenya. Acara berdurasi empat hari ini mempertemukan menteri pertanian, diplomat, serta perwakilan lembaga keuangan dan organisasi non‑pemerintah dari lebih dua puluh negara.
Tujuan utama pertemuan adalah memperkuat kerja sama lintas benua dalam meningkatkan produktivitas pertanian, mengurangi kemiskinan pedesaan, dan menanggulangi perubahan iklim melalui teknologi ramah lingkungan. Para delegasi menekankan pentingnya:
- Transfer pengetahuan dan teknologi pertanian modern antara negara anggota;
- Pembiayaan bersama proyek infrastruktur pedesaan, termasuk irigasi dan akses pasar;
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan beasiswa;
- Pengembangan kebijakan yang mendukung pertanian berkelanjutan dan inklusif.
Selama sesi plenary, Menteri Pertanian Kenya, Hon. Peter Munya, menyoroti peran penting kolaborasi regional dalam mengatasi tantangan ketahanan pangan. Sementara itu, perwakilan Kementerian Pertanian Tiongkok, Liu Wei, memperkenalkan program “Smart Rural Initiative” yang mencakup penggunaan sensor tanah, drone pemantau tanaman, serta platform data agrikultur berbasis AI.
Berikut rangkuman poin utama yang disepakati:
| Bidang | Komitmen |
|---|---|
| Finansial | Pembentukan dana bersama sebesar US$2 miliar untuk proyek irigasi dan pengolahan hasil tani. |
| Teknologi | Transfer teknologi pertanian presisi ke lima negara Afrika pilihan. |
| Kapabilitas | Pelatihan 10.000 petani muda melalui program pertukaran tenaga ahli. |
| Lingkungan | Implementasi praktik pertanian ramah iklim di 15 wilayah pedesaan. |
Para peserta juga menandatangani deklarasi bersama yang menegaskan komitmen untuk melaksanakan program selama lima tahun ke depan, dengan evaluasi tahunan oleh lembaga pemantau independen. Diharapkan, sinergi ini dapat meningkatkan pendapatan petani, memperluas akses pasar internasional, serta mengurangi ketergantungan pada impor bahan pangan.
Konferensi ini menutup dengan harapan bahwa kemitraan Afrika‑Asia akan menjadi model kolaborasi global dalam mendorong pembangunan pedesaan yang inklusif dan berkelanjutan.