Setapak Langkah – 12 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan signifikan dan pada hari ini menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat, menandai titik terendah yang belum pernah tercapai dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat, aliran keluar modal asing, serta kekhawatiran atas prospek pertumbuhan ekonomi global. Di sisi dalam negeri, data inflasi yang masih tinggi serta ketidakpastian kebijakan fiskal menambah beban pada pasar valuta asing.
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Purbaya, menyatakan kesiapan otoritas moneter untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar. Intervensi tersebut dijadwalkan akan dimulai mulai besok, dengan tujuan menurunkan volatilitas dan mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.
Beberapa langkah yang diperkirakan akan diambil antara lain:
- Peningkatan likuiditas di pasar spot melalui penjualan devisa resmi.
- Penggunaan instrumen pasar uang untuk menahan aliran keluar modal.
- Koordinasi dengan kementerian keuangan untuk menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter.
- Pengawasan ketat terhadap spekulasi berlebih di pasar valuta asing.
Berikut rangkuman pergerakan nilai tukar rupiah dalam seminggu terakhir:
| Tanggal | Kurs (Rp/USD) |
|---|---|
| 10 Mei 2024 | 17.200 |
| 11 Mei 2024 | 17.350 |
| 12 Mei 2024 | 17.420 |
| 13 Mei 2024 | 17.470 |
| 14 Mei 2024 | 17.500 |
Para analisanya menilai bahwa intervensi awal akan membantu menurunkan tekanan jangka pendek, namun stabilitas jangka panjang tetap bergantung pada kondisi eksternal serta kebijakan struktural di dalam negeri.
Dengan langkah-langkah yang diambil mulai besok, diharapkan pasar valuta asing dapat kembali berada dalam jalur yang lebih terkendali, memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk terus berlanjut.