Setapak Langkah – 12 Mei 2026 | Kementerian Kehutanan Indonesia mengumumkan bahwa Taman Nasional (TN) Gunung Ciremai akan dijadikan contoh utama integrasi strategi Fluktuasi dan Penyerapan Karbon (FOLU) dalam program Net Sink 2030. Inisiatif ini bertujuan mengoptimalkan peran hutan sebagai penyerap karbon sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
FOLU Net Sink 2030 merupakan rangkaian kebijakan yang menggabungkan upaya pengelolaan hutan, lahan, dan penggunaan lahan secara berkelanjutan untuk mencapai target penyerapan karbon nasional pada tahun 2030. Dalam konteks TN Gunung Ciremai, kementerian berencana melakukan langkah‑langkah berikut:
- Pemetaan zona penyerapan karbon secara detail menggunakan teknologi satelit dan LIDAR.
- Penerapan program restorasi hutan degradasi melalui penanaman kembali spesies endemik.
- Penguatan peran masyarakat lokal dalam kegiatan pemeliharaan hutan melalui skema benefit sharing.
- Pengembangan ekowisata berbasis edukasi karbon untuk meningkatkan kesadaran publik.
- Monitoring dan pelaporan berkala menggunakan sistem data terbuka.
Dengan mengintegrasikan FOLU, diharapkan TN Gunung Ciremai dapat meningkatkan kapasitas penyerapan karbon hingga 12 MtCO₂e per tahun pada akhir dekade ini. Peningkatan ini tidak hanya berkontribusi pada komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris, tetapi juga membuka peluang pendanaan internasional berupa carbon credit.
Selain aspek iklim, model integrasi ini diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas sekitar. Program benefit sharing mencakup pelatihan kerja, pendapatan dari ekowisata, serta insentif bagi petani yang mengadopsi praktik agroforestri yang ramah karbon.
Kementerian menargetkan peluncuran fase awal pada kuartal pertama 2024, dengan evaluasi tahunan untuk menyesuaikan strategi berdasarkan hasil monitoring. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi ke taman nasional lain di Indonesia sebagai kerangka kerja standar dalam upaya mitigasi perubahan iklim.