Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu-Lampung melakukan pemantauan satwa liar di Kawasan Alir Sungai (BAS) Bengkulu dengan bantuan teknologi drone. Pada survei terbaru, tim menemukan sebanyak 17 ekor gajah liar yang bergerak di wilayah hutan lindung.
Penggunaan drone memungkinkan tim BKSDA mengamati area yang sulit dijangkau secara langsung. Dengan kamera beresolusi tinggi dan kemampuan terbang pada ketinggian tertentu, drone dapat menangkap gambar dan video real‑time, sehingga meminimalkan gangguan terhadap satwa.
- Metode pemantauan: Drone diluncurkan pada pagi hari, terbang melintasi jalur migrasi gajah, dan merekam jejak serta perilaku kelompok.
- Keuntungan: Mengurangi risiko kecelakaan bagi tim lapangan, mempercepat pengumpulan data, serta meningkatkan akurasi identifikasi individu gajah.
- Tantangan: Kondisi cuaca yang berubah-ubah dan keterbatasan durasi terbang drone menjadi faktor yang harus dikelola.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa gajah‑gajah tersebut tersebar di beberapa titik strategis, seperti daerah sekitar Sungai Batanghari dan hutan sekunder di sebelah barat BAS. Berikut rangkuman temuan:
| Lokasi | Jumlah Gajah |
|---|---|
| Sungai Batanghari | 7 |
| Hutan Sekunder Barat | 5 |
| Area Perbatasan | 5 |
Penemuan ini menjadi indikator penting bagi upaya konservasi di Bengkulu. BKSDA berencana meningkatkan frekuensi pemantauan dengan drone dan melibatkan masyarakat sekitar dalam pelaporan pergerakan gajah. Langkah selanjutnya mencakup penetapan zona perlindungan tambahan serta koordinasi dengan pihak keamanan untuk mencegah konflik manusia‑satwa.
Penggunaan teknologi drone di bidang konservasi diharapkan menjadi model bagi daerah lain, mengingat efektivitasnya dalam mendeteksi populasi satwa liar secara cepat dan aman.