Setapak Langkah – 09 Mei 2026 | China kini mengizinkan pemilik kendaraan listrik (EV) untuk mengalirkan kembali listrik yang tersimpan di baterainya ke jaringan listrik nasional. Skema ini dikenal sebagai vehicle-to-grid (V2G) dan merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan serta mengurangi beban puncak pada sistem kelistrikan.
Program V2G pertama kali diuji coba di beberapa kota besar, termasuk Shanghai, Shenzhen, dan Chengdu. Pemilik EV yang berpartisipasi dapat menjual listrik kembali ke jaringan melalui kontrak berbasis tarif dinamis, di mana harga listrik berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan pasokan dan permintaan. Pendapatan tambahan ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di kalangan konsumen.
Berikut adalah mekanisme dasar V2G yang diimplementasikan:
- Pengisian dan Pengosongan Otomatis: Baterai EV terhubung ke stasiun pengisian pintar yang dapat mengatur kapan mengisi atau mengosongkan energi berdasarkan sinyal pasar.
- Tarif Dinamis: Harga listrik ditetapkan secara real‑time, sehingga pemilik EV memperoleh tarif lebih tinggi saat jaringan mengalami kekurangan pasokan.
- Kontrak Jangka Pendek: Pengguna dapat memilih periode penjualan daya, mulai dari beberapa jam hingga beberapa minggu, sesuai kebutuhan pribadi.
Manfaat yang diidentifikasi meliputi:
- Peningkatan stabilitas jaringan listrik dengan memanfaatkan baterai sebagai sumber cadangan.
- Pengurangan emisi karbon karena energi yang dijual berasal dari sumber terbarukan yang diisi pada jam‑jam dengan surplus energi surya atau angin.
- Insentif finansial bagi pemilik EV, yang dapat menurunkan total biaya kepemilikan kendaraan.
Namun, terdapat tantangan teknis dan regulasi. Kualitas sambungan listrik harus terjaga agar tidak mengurangi umur baterai secara signifikan. Pemerintah juga sedang menyusun standar keamanan dan protokol komunikasi antar perangkat untuk mencegah potensi kegagalan sistem.
Ke depan, para analis memperkirakan bahwa skema V2G akan diperluas ke wilayah pedesaan dan diintegrasikan dengan proyek mikro‑grid serta penyimpanan energi skala besar. Jika berhasil, model ini dapat menjadi contoh bagi negara lain yang ingin mengoptimalkan jaringan listrik sambil mendukung transisi energi bersih.