Setapak Langkah – 09 Mei 2026 | Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono mengusulkan penyesuaian frekuensi pemberian program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai alternatif yang lebih aman untuk menjaga stabilitas anggaran dibandingkan mengubah total alokasi program.
Program MBG, yang ditujukan untuk meningkatkan gizi anak sekolah, selama ini diberikan secara rutin tiap minggu atau dua minggu sekali di sejumlah daerah. Namun kenaikan biaya operasional dan tekanan fiskal mendorong pemerintah untuk meninjau kembali mekanisme pembiayaan.
- Penyesuaian frekuensi dapat mengurangi beban biaya tanpa menghilangkan manfaat inti program.
- Mengurangi jumlah hari pemberian per bulan memberi ruang bagi alokasi dana ke sektor lain yang membutuhkan.
- Strategi ini lebih fleksibel dibandingkan pemotongan total anggaran yang dapat menurunkan capaian gizi nasional.
Berikut contoh simulasi dampak penyesuaian frekuensi terhadap estimasi biaya tahunan:
| Frekuensi | Estimasi Biaya (Miliar Rupiah) |
|---|---|
| Mingguan | 1.200 |
| Dua Mingguan | 850 |
| Tiga Mingguan | 700 |
| Bulanan | 560 |
Riandy menekankan bahwa penyesuaian ini harus disertai dengan evaluasi kualitas layanan, sehingga meskipun frekuensi berkurang, standar gizi tetap terpenuhi. Selain itu, koordinasi dengan dinas pendidikan dan kesehatan diperlukan untuk mengoptimalkan distribusi makanan bergizi pada hari‑hari pemberian.
Jika diterapkan, kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan tekanan pada APBN, menjaga kelangsungan program MBG, sekaligus memberikan ruang fiskal untuk prioritas lain seperti infrastruktur dan kesehatan masyarakat.