Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Ka’bah, bangunan kubus yang terletak di Masjidil Haram, Mekah, telah menjadi titik fokus arah shalat umat Islam sejak lebih dari 1.400 tahun lalu. Asal‑usul penunjukan Ka’bah sebagai kiblat tidak muncul begitu saja; ia berakar pada kisah‑kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, serta perintah ilahi yang termaktub dalam Al‑Qur’an.
Berikut rangkaian peristiwa penting yang menjelaskan mengapa Ka’bah dipilih sebagai kiblat:
- Pendirian pertama – Menurut tradisi Islam, Nabi Ibrahim bersama putranya Ismail membangun Ka’bah di atas tempat yang telah disucikan oleh umat sebelumnya. Tujuannya adalah untuk menciptakan tempat ibadah yang monoteistik.
- Penggunaan sebagai kiblat pada masa Nabi Muhammad – Selama 16 tahun pertama kenabian, umat Islam menyembah Allah menghadap Bait Suci di Yerusalem, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al‑Baqarah ayat 142‑144.
- Perubahan kiblat – Pada tahun ke‑17 kenabian, setelah perintah Allah turun dalam Surah Al‑Baqarah ayat 144, arah shalat diubah menjadi Ka’bah di Mekah. Perubahan ini menandai identitas tersendiri bagi umat Islam.
- Pemeliharaan dan renovasi – Sejak masa khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, hingga masa kini, Ka’bah mengalami beberapa kali renovasi, namun tetap mempertahankan bentuk kubus asli.
Keputusan mengalihkan kiblat ke Ka’bah tidak hanya bersifat ritual; ia menegaskan kembali monoteisme yang diajarkan oleh Ibrahim dan meneguhkan persatuan umat Islam di seluruh dunia. Setiap kali muslim melaksanakan salat, gerakan memutar tubuh menghadap Ka’bah menjadi simbol kesatuan spiritual yang melampaui batas geografis.
Selain nilai keagamaan, Ka’bah juga menjadi magnet bagi wisatawan religi. Jutaan jamaah melakukan ibadah haji atau umrah setiap tahun, memperkuat posisi Mekah sebagai pusat spiritual dan budaya Islam.