Setapak Langkah – 10 April 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa capaian swasembada beras bukanlah tujuan akhir, melainkan batu loncatan untuk memperkuat kemandirian pangan nasional melalui swasembada protein. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan impor daging, ikan, susu, dan produk olahan protein lainnya.
Berbagai kebijakan telah dirancang untuk mempercepat produksi protein dalam negeri, antara lain:
- Peningkatan produksi ternak: Pemerintah menargetkan kenaikan populasi sapi, kambing, dan unggas melalui program subsidi pakan, vaksinasi massal, dan pelatihan peternak.
- Pengembangan budidaya ikan air tawar dan laut: Investasi infrastruktur tambak, pembibitan benih, serta pemberian kredit lunak bagi nelayan dan petani perikanan.
- Promosi tanaman protein tinggi: Penanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau didorong dengan insentif lahan dan bantuan bibit.
- Inovasi industri pengolahan: Dukungan riset dan pengembangan produk olahan protein nabati serta fasilitas pengolahan modern.
Berikut perkiraan target produksi protein dalam lima tahun ke depan dibandingkan konsumsi nasional:
| Tahun | Produksi Protein (juta ton) | Konsumsi Nasional (juta ton) |
|---|---|---|
| 2024 | 45 | 55 |
| 2026 | 55 | 56 |
| 2028 | 63 | 57 |
Data tersebut menunjukkan bahwa dengan langkah-langkah di atas, produksi domestik dapat mendekati atau bahkan melampaui kebutuhan nasional pada akhir dekade ini.
Selain meningkatkan ketahanan pangan, swasembada protein diproyeksikan dapat menurunkan defisit neraca perdagangan, menciptakan lapangan kerja di sektor pertanian dan perikanan, serta meningkatkan pendapatan petani dan peternak.
Pemerintah juga menyiapkan anggaran khusus dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 untuk mendukung program ini, termasuk alokasi dana bagi riset genetik ternak, fasilitas penyimpanan pakan, dan jaringan distribusi pasar domestik.
Pengawasan dan evaluasi berkala akan dilakukan oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk memastikan target tercapai tepat waktu.