Setapak Langkah – 14 Mei 2026 | Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui unit Energy and Power Investment (EPI) memperkirakan kebutuhan liquefied natural gas (LNG) akan mengalami lonjakan signifikan hingga tahun 2034. Proyeksi pertumbuhan tahunan mencapai 4,5 persen, yang menandakan peningkatan beban listrik nasional serta pergeseran sumber energi dari batu bara ke gas alam.
Faktor utama yang mendorong peningkatan permintaan LNG meliputi:
- Peningkatan konsumsi listrik rumah tangga dan industri seiring pertumbuhan ekonomi.
- Penutupan atau pengurangan kapasitas pembangkit berbasis batu bara untuk menurunkan emisi karbon.
- Pengembangan pembangkit listrik berbasis gas yang lebih fleksibel dan ramah lingkungan.
- Kebutuhan cadangan energi yang lebih aman dalam menghadapi fluktuasi pasokan.
Berikut perkiraan kebutuhan LNG PLN dalam jutaan ton dari tahun 2024 hingga 2034:
| Tahun | Kebutuhan LNG (juta ton) |
|---|---|
| 2024 | 3,2 |
| 2028 | 3,9 |
| 2032 | 4,5 |
| 2034 | 5,0 |
Jika tren ini terus berlanjut, PLN akan membutuhkan investasi tambahan pada infrastruktur penerimaan, penyimpanan, dan regasifikasi LNG. Pemerintah diperkirakan akan memperkuat kerjasama bilateral dengan produsen LNG utama, serta mengoptimalkan regulasi impor untuk memastikan ketersediaan pasokan yang stabil.
Peningkatan kebutuhan LNG juga membuka peluang bagi pemain domestik dan internasional dalam sektor logistik, konstruksi fasilitas gas, serta penyediaan teknologi pemrosesan. Sektor energi Indonesia diprediksi akan mengalami dinamika baru yang menuntut adaptasi cepat, baik dari sisi kebijakan maupun operasional.