Setapak Langkah – 30 Maret 2026 | Jakarta, 30 Maret 2026 – Pada Minggu (29/3/2026) ribuan penggemar Vidi Aldiano berkumpul di TPU Tanah Kusir untuk memperingati hari kelahiran sang musisi sekaligus melaksanakan aksi sosial yang diprakarsai oleh ayahnya, Harry Kiss. Dalam suasana haru, keluarga Aldiano menyerahkan pakaian, sepatu, dan aksesoris milik almarhum kepada para pelayat, petugas pemakaman, serta perwakilan panti asuhan setempat. Satu barang istimewa, mikrofon berwarna biru, dipertahankan untuk penggunaan khusus bersama istri Vidi, Sheila Dara Aisha, sebagai simbol warisan kreatif sang artis.
Donasi Pakaian Sebagai Amal Jariyah
Setelah meninjau tumpukan pakaian berukuran oversize yang ditinggalkan Vidi, Harry Kiss memutuskan bahwa koleksi tersebut lebih bermanfaat bila disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan. Proses pendistribusian dilakukan secara bertahap, melibatkan beberapa yayasan sosial. Keluarga mengundang perwakilan panti asuhan untuk memilih item yang paling sesuai, sehingga bantuan tidak sekadar simbolik melainkan dapat langsung dipakai.
- Pakaian kasual bermerk Adidas, Nike, dan lokal dengan desain unik.
- Kaos oversized berlogo Vidi yang menjadi ciri khas penampilannya di atas panggung.
- Sepatu sneaker ukuran anak dan remaja.
- Aksesoris seperti topi, gelang, dan tas kecil.
Menurut Harry, hampir seluruh koleksi pakaian almarhum telah didistribusikan, kecuali beberapa helai ikonik yang akan disimpan untuk pembuatan “petilasan” Vidi Aldiano, sebuah tempat peringatan yang direncanakan keluarga dalam jangka panjang.
Mikrofon Biru: Simbol Kreativitas yang Diwafakan
Mikrofon berwarna biru yang selama ini menjadi alat utama Vidi dalam setiap konser, diputuskan untuk tidak dijual atau disumbangkan. “Mikrofon birunya mahal, tapi sudah diwakafkan,” ujar Harry sambil tersenyum. Ia menjelaskan bahwa mikrofon tersebut akan dipergunakan dalam proyek kolaborasi musik bersama istri Vidi, Sheila Dara Aisha, yang sebelumnya pernah memimpin perayaan ulang tahun Vidi dengan spanduk pecel lele yang menjadi viral.
Keputusan ini dianggap sebagai cara menjaga warisan seni sang anak sekaligus memberikan nilai tambah spiritual bagi keluarga. “Mikrofon itu akan terus mengalirkan kebaikan, bukan hanya sebagai barang, melainkan sebagai media untuk menginspirasi generasi baru,” tambahnya.
Suasana dan Reaksi Penggemar
Para pelayat yang menerima pakaian mengaku merasakan kedekatan emosional yang kuat. “Mengenakan baju Vidi bukan sekadar mendapatkan pakaian, melainkan memegang kenangan,” kata salah satu penggemar yang mengenakan kaos oversize berlogo Vidi. Petugas pemakaman, yang juga menerima beberapa item, menyatakan kebanggaan bisa menjadi bagian dari amal jariyah yang berkelanjutan.
Selain pembagian pakaian, acara diisi dengan doa bersama, foto kenangan, serta pemotongan kue yang dibagikan kepada semua yang hadir. Suasana tetap hangat meski berada di area pemakaman, menegaskan bahwa rasa hormat dan kasih sayang tetap dapat bersatu dalam aksi sosial.
Rencana Jangka Panjang Keluarga Aldiano
Keluarga mengungkapkan bahwa selain petilasan, mereka berencana mengadakan program beasiswa musik bagi anak-anak kurang mampu, menggunakan dana yang berasal dari penjualan barang-barang koleksi Vidi yang tidak disumbangkan. “Kami ingin memastikan semangat Vidi tetap hidup melalui musik dan pendidikan,” ujar Besbarini, istri Vidi, dalam percakapan singkat setelah acara.
Dengan menyalurkan pakaian dan barang pribadi almarhum kepada orang-orang yang membutuhkan, keluarga Aldiano berharap amal jariyah tersebut dapat terus mengalir manfaatnya, sekaligus menjadi contoh bagi publik untuk tidak menunda‑tunda berbuat baik.
Langkah ini menegaskan bahwa warisan seorang artis tidak berhenti pada karya musiknya, melainkan dapat berlanjut dalam bentuk kepedulian sosial yang nyata. Keluarga Aldiano menutup acara dengan harapan bahwa setiap item yang diberikan akan menjadi doa yang terus mengalir untuk Vidi Aldiano, serta menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.